NAMA            : Muhammad Fakhri Nugraha

NRP                : H54100032

TUGAS           : Cerita Inspirasi Orang Lain

Assalamualaikum wr.wb

Saya akan menceritakan kisah ayah saya yang memperjuangkan pendidikan hingga berhasil sampai saat ini. Mudah-mudahan ini bisa menginspirasikan untuk kita semua khususnya saya pribadi. Ayah saya terlahir sebagai anak ke-6 dari 12 bersaudara. Orang tuanya mempunyai penghasilan yang cukup besar. Ayah saya ini sangat ingin bersekolah tapi tidak diizinkan oleh orang tua. Orang tuanya hanya mementingkan nilai Agama saja dan tidak memperdulikan pendidikan. Hingga akhirnya ayah saya bersekolah tapi dengan usaha sendiri. Setiap pulang sekolah ia harus menjahit demi kebutuhan membayar SPP dan membeli seragam sekolah. Sepatu yang digunakannyapun sudah tidak layak dipakai, terkadang dia harus menjahit sendiri. Pernah dia diundang mewakili sekolahnya untuk menghadiri peringatan HUT RI ke Istana Negara namun batal karena tidak memiliki kaos kaki. Sungguh memilukan memang namun ayah saya tetap semangat untuk belajar. Setelah lulus STM dia di terima bekerja di PT. Toyota, hingga sekarang menjadi supervisor di pabrik tersebut. Sekarang ayah saya lebih sukses daripada saudara-saudara yang lainnya. Namun, kesuksesan itu tidak menjadikan dirinya sombong dan lupa akan saudara-saudara yang lainnya. Terkadang dia selalu membantu jika saudaranya sedang kesulitan. Semoga cerita ini dapat menginspirasi semua bahwa pendidikan itu penting dan kita harus sungguh-sungguh jika mau berhasil. Wassalamualaikum wr.wb

NAMA            : Muhammad Fakhri Nugraha

NRP                : H54100032

TUGAS           : Cerita Inspirasi Pribadi

Assalamualaikum wr.wb.

Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya yang insya allah akan menginspirasikan kita semua khususnya saya pribadi. Saya akan menceritakan perjuangan saya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri yang menurut saya penuh lika-liku. Tapi sebelum saya menceritakannya,saya akan mengenalkan dulu latar belakang biografi saya. Saya merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara dari orang tua yang mempunyai penghasilan yang cukup besar. Ayah saya berpendidikan hanya sampai STM sedangkan ibu saya hanya sampai SMP. Saya masuk ke dunia pendidikan di mulai dari TK dan SD swasta. Semasa itu saya tidak dapat menorehkan prestasi yang begitu bagus, lanjut ke SMP saya lulus test mendapatkan sekolah negri ”tanpa belajar”. Di SMP saya hanya bisa menorehkan prestasi bisa masuk ranking 10 besar dari kelas. Pendidikan SMA pun saya mendapatkan negri. Di SMA saya bisa berbangga hati karena saya bisa lulus tes masuk SMA Negri untuk kelas khusus ”tanpa belajar”, kelas khusus ditujukan untuk orang yang pintar dan fasilitas belajarnya lebih lengkap dengan yang reguler. Prestasi di SMA pun lumayan meningkat daripada sebelum-sebelumnya,baik itu prestasi akademik maupun non akademik. Saya mulai aktif organisasi di SMA, waktu di SMP saya tidak pernah berpikir untuk masuk organisasi. Karena hanya akan buang-buang waktu dan melelahkan saja. Di SMA saya mengikuti 3 organisasi, di ROHIS saya menjadi Koor. Departement bidang syiar, di ekskul jurnalistik saya menjadi kontributor reportase, dan di OSIS saya menjadi wakil ketua OSIS. Pada masa inilah saya merasa hebat.

Namun, itu semua ternyata menjadikan saya menjadi sombong pada mengikuti ujian PTN. Saya berpikir untuk memasuki PTN itu mudah. ”gak usah belajar toh nanti sendirinya juga lulus”. Tapi, ternyata hasilnya saya tidak pernah berhasil. Sudah lima kali saya mengikuti test PTN namun dinyatakan tidak lulus semua. Sampai saya mendaftarkan diri ke sebuah PTS sebagai cadangan. Setelah tidak lulus di UMB, saya mempunyai kesempatan terakhir yaitu di SNMPTN. Di sini saya sudah mulai berubah pola pikir saya. Saya harus lebih belajar sungguh-sungguh dan memohon doa kepada-Nya. Saya merasa malu dan sedih kalau melihat orang tua selalu di telepon dengan temannya ”gimana anakmu?lulus atau ngak?” dan jawabnya selalu ngak sambil menahan sedih.Apalagi ayah sampai sakit karena capek mengantar saya ke tempat ujian. Akhirnya saya merasa termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh. Lalu, ketika hari pengumuman. Saya melihat namaku tertuliskan lulus di IPB. Saya senang dan menangis bahagia melihat orang tua bahagia,sujud, dan menangis bahagia juga. Kalau saya tidak belajar dengan sungguh-sungguh mungkin saya sekarang sudah belajar di Universitas Swasta. Semoga ini dapat menginspirasikan buat kita semua bahwa kalau ingin mendapatkan sesuatu kita harus berusaha semaksimal mungkin dan jangan merasa kita ini paling hebat. Sekian.Wassalamualaikum wr.wb

Search
Archives